Di balik berkembang pesatnya proyek pembangunan infrastruktur, terdapat banyak bahaya yang mengintai para pekerja konstruksi. Sumber bahaya ini dapat berasal dari peralatan, mesin, hingga bahan berbahaya yang digunakan dalam setiap aktivitas kegiatan. Dalam kondisi tersebut, diperlukan pekerja yang aware terhadap lingkungan kerja. Artikel ini akan menjelaskan 5 bahaya yang sering muncul di proyek konstruksi bangunan. Dengan memahami bahaya-bahaya tersebut, diharapkan Anda menjadi lebih awas dan membantu menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sesuai standar K3. 1. Terjepit atau Tertabrak Alat Berat Area kerja konstruksi tidak terlepas dari banyaknya alat berat yang beroperasi di lingkungan kerja. Volume kendaraan yang tinggi dan ramainya arus lalu lintas harus membuat pekerja selalu waspada terhadap area sekitarnya. Tidak sedikit kasus kecelakaan yang terjadi karena kelalaian pekerja maupun operator alat berat. Berikut merupakan penyebab pekerja terjepit atau tertabrak di area konstruksi : - Ramainya arus lalu lintas alat berat di area konstruksi seperti forklift, excavator, wheel loader, crane. - Adanya blind spot ketika mengoperasikan alat berat. - Tidak adanya jalur khusus antara alat berat dan jalur pekerja. - Adanya penumpukan material pada jalur lintas alat berat. Strategi pengendalian yang efektif perlu dilakukan untuk mengurangi bahaya kecelakaan kerja. Selain perlunya penggunaan alat pelindung diri yang tepat, pekerja juga diwajibkan untuk mengenakan rompi reflektif agar terlihat oleh operator alat berat dan meminimalisir kecelakaan kerja terutama dalam area kerja dengan pencahayaan terbatas. Selain itu perlu adanya jalur pembeda antara pekerja dengan jalur alat berat. Petugas juga diperlukan untuk memandu operator alat berat ketika melewati ruang yang sempit atau area terbatas. Pekerja juga harus memiliki sertifikasi dalam mengoperasikan alat berat dan perlu adanya inspeksi rutin pada alat berat. 2. Terjatuh dari Ketinggian Terjatuh dari ketinggian merupakan salah satu penyebab utama terjadinya cedera serius hingga kematian pada pekerja. Area konstruksi yang luas dan tinggi seringkali menjadi TKP banyaknya kasus kecelakaan kerja dari ketinggian yang berakhir pada kematian. Berikut ini merupakan beberapa penyebab terjadinya kecelakaan terjatuh dari ketinggian : - Pekerja tidak mengenakan alat pelindung diri seperti harness dengan benar - Scaffolding dan tangga pada area konstruksi tidak dipasang dengan benar - Kondisi cuaca di area konstruksi yang tidak menentu seperti hujan atau angin - Permukaan lantai yang licin atau tidak rata Penyebab tersebut tentunya dapat diminimalisir dengan kepatuhan pekerja dalam menggunakan alat pelindung diri seperti body harness dan memasang safety net pada area-area yang berisiko. Tangga maupun scaffolding juga harus diperiksa secara berkala untuk memastikan dalam kondisi baik. 3. Penanganan Manual Selain penggunaan alat berat dalam area konstruksi, banyak pekerja masih melakukan aktivitas manual seperti mengangkat, mendorong, menarik atau memindahkan material dari satu tempat ke tempat lain. Aktivitas fisik seperti ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan jangka panjang apabila penanganannya tidak dilakukan secara tepat. Berikut merupakan beberapa penyebab cedera fisik akibat aktivitas manual : - Proses pengangkatan barang tidak menggunakan metode yang ergonomis - Pekerja melakukan gerakan berulang dalam jangka waktu yang lama - Teknik lifting yang salah Cedera yang paling sering dialami oleh pekerja ketika melakukan penanganan manual adalah cedera otot, tulang belakang, dan keseleo. Untuk itu, pekerja perlu melakukan pelatihan untuk pengangkatan beban secara ergonomis agar tidak menimbulkan risiko jangka panjang. Metode pengangkatan yang benar adalah dengan menjaga punggung tetap lurus agar beban tidak dititikberatkan pada punggung. Selain itu, perlu juga dihindari gerakan memutar pada saat membawa beban. Jika memungkinkan, gunakan alat bantu mekanis seperti forklift, tali ataupun troli untuk meminimalisir aktivitas manual. 4. Terkena Sengatan Listrik Area konstruksi menggunakan banyak sumber listrik yang beroperasi di sekitar para pekerja. Mulai dari kabel listrik untuk pengoperasian mesin, instalasi listrik sementara, hingga saluran listrik bawah tanah. Kontak dengan listrik dapat mengakibatkan cedera hingga kematian bahkan hanya dengan waktu singkat. Tingkat cedera karena listrik bergantung pada besar kecilnya tegangan, lamanya sengatan, jenis arus, dan jalur arus listrik yang melalui tubuh. Berikut hal-hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir terkena sengatan listrik pada saat bekerja pada area konstruksi : - Menjaga jarak aman dari saluran listrik - Melakukan identifikasi lokasi kabel listrik sebelum memulai pekerjaan - Menerapkan prosedur lockout saat melakukan perawaan listrik - Hanya teknisi atau pekerja berwenang yang boleh menangani instalasi listrik 5. Terpapar Debu dan Bahan Kimia Berbahaya Paparan debu ataupun uap bahan kimia dapat menyebabkan penyakit jangka pendek maupun panjang ketika terhirup oleh pekerja. Sumber paparan ini dapat berupa pengelasan, pengecatan, pengeboran, dan pengamplasan material. Zat ini mudah menyebar pada area konstruksi apalagi dalam area kerja tertutup. Pekerja seringkali tidak aware ketika melakukan pekerjaanya dan tidak menggunakan alat pelindung diri secara kurang tepat. Akibatnya kontak langsung ini dapat menimbulkan penyakit pernafasan, kulit, hingga kronis. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit akibat paparan debu dan bahan kimia berbahaya : - Menggunakan alat pelindung pernafasan - Menyediakan ventilasi lokal sebagai tempat keluar masuk udara - Melakukan pengujian kualitas udara secara berkala - Mengikuti prosedur penanganan secara aman ketika menangani bahan maupun debu berbahaya Bagikan Artikel Ini Facebook Twitter WhatsApp